Awalnya Pandemi Mengancam Kesehatan, Lama-Lama Mental Juga

Di masa pandemi ini kita harus siap menerima terpaaan fisik dan mental. Secara fisik, tentunya kita sudah tahu atau setidaknya pernah melihat di TV atau platform lain. Namun serangan penyakit ini terhadap mental manusia, jarang ada yang memperhatikan.

Gejalanya bermacam-macam. Salah satunya, sekarang kita jadi kurang percaya satu sama lain. Rasa-rasanya kita harus terus curiga bahwa siapapun bisa menulari kita. Bahkan orang terdekat kita, ketika ia habis dari tempat jauh, rasa-rasanya kita takut untuk mendekat. Walaupun istilah Social Distancing sudah disempurnakan menjadi Physical Distancing agar orang-orang menjaga jarak secara fisik saja, bukan silaturrahminya, masih aja ada yang salah pengertian.

Begitupun yang sebaliknya. Ada yang mentalnya terlalu percaya diri. Menganggap tubuhnya punya imun super. Atau bahkan Corona itu tidak ada. Hanya akal-akalan saja. Sehingga ia melawan dengan tidak mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah.

Masalahnya adalah kita hidup bermasyarakat. Dimana setiap orang memiliki jalan hidup sendiri-sendiri sehingga memiliki pemahaman yang tingkatnya juga berbeda-beda. Ketika orang yang yakin bahwa Corona tidak akan mengenai dirinya ini bertemu dengan yang percaya bahaya Corona atau aparat penegak, sudah dapat ditebak apa yang akan terjadi.

Di media sosial kita sudah diperlihatkan begitu banyak ragam reaksi masyarakat terhadap pandemi ini. Dimana setiap orang mencoba memaksakan pendapatnya atas orang lain. Pastilah tidak akan sampai pada titik temu. Dan diujung perdebatan selalu bisa ditebak. Kalau tidak semakin tinggi nadanya ya tangan dan kaki mulai aktif berbicara.

Ketika semua orang diberi kesempatan untuk berpendapat melalu media sosial, di sanalah kita jadi tahu komplikasinya. Ada orang baik yang berniat berpendapat namun tidak menguasai masalah. Ada orang yang menguasai masalah namun berniat buruk demi keuntungan. Ada orang pokoknya ingin eksis sehingga memaksakan berpendapat apapun saja.

Masalahnya juga tidak berhenti di situ saja. Ada lagi dari pihak audien. Kemalasan dan ketidaktahuan dalam bidang kesehatan membuat mereka lebih gampang menerima pendapat yang relate pada kehidupan mereka ketimbang fakta ilmiah. Sehingga seharusnya Hoax tidak perlu terjadi kalau setiap audien mengetahui faktanya.

Sudahlah, jadi pusing kan mikiran yang beginian. Mending kita ngopi aja yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *