Apakah Benar Para Pemilik Kedai Kopi Asal-Asalan Memilih Cangkir Kopinya?

Satu hal yang sering terlewatkan ketika kita nongkrong di kafe untuk menikmati kopi bersama teman-teman adalah cangkirnya. Pernahkah kita pikirkan bagaimana cangkir itu yang akhirnya dipilih untuk diisi kopi lalu dihidangkan kepada kita saat di kafe? Apakah itu melalui proses pemilihan yang ketat ataukah asal-asalan saja yang penting cangkir yang bisa digunakan?

Untuk menjawab hal ini kita harus tau sudut pandang dari seorang pemilik kedai kopi. Bayangkan kamu adalah seorang pemilik kedai kafe. Apakah kamu akan mendesain kafe kamu dengan tema atau tujuan tertentu atau asal-asalan saja asal terlihat seperti kafe pada umumnya?

Tentu saja tidak kan?

Seseorang tentu memiliki alasan dan tujuan mengapa meletakan meja di sana, kursi di sini, tempat kasir di sebelah sana, dan seterusnya. Termasuk mengapa ia memilih cangkir yang ini, dan bukanya yang itu.

Seorang kenalan lama yang sudah lama menggeluti bisnis kedai kopi menceritakan pada saya tentang konsep bisnis kedai kopi yang dimilikinya. Ia mendirikan kedai kopi dengan konsep pedesaan yang sederhana. Ketika datang ke kedai-nya kita seolah dibawa ke nuansa pedesaan yang banyak pohon dan pemandangan indah. Furnitur yang dipilih pun disesuaikanya. Meja dan kursi dari bahan kayu yang dibentuk sederhana, beberapa ada yang berbentuk akar pohon. Kita bahkan bisa menikmati kopi di ruangan terbuka diantara beberapa tanaman berbunga.

Tidak lupa, cangkir yang digunakan pun ia sesuaikan. Ia memilih cangkir dari bahan batok kelapa yang dibentuk sedemikian rupa sehingga pas dengan konsep yang diusung. Kita hampir sulit menemukan bahan aluminium kecuali mesin kopi yang digunakan. Semua serba bahan alam.

Begitu juga dengan kedai kopi lain yang  saya pernah temui. Walaupun saya tidak begitu kenal dengan pemiliknya, namun dari tampilan kedai yang dihadirkan cukup jelas mengesankan bahwa ini bertema industrial dengan desain maskulin yang sangat kentara. Sekilas saya amati para pengunjung  yang datang adalah kaum laki-laki yang kebanyakan berjaket kulit dan jeans. Yah, mudah sekali ditebak, mereka rata-rata pasti anak motor. Dan waktu saya melihat cangkir yang digunakan, itu adalah cangkir berbahan keramik dengan warna hitam dengan corak abu-abu dan putih. Senada sekali dengan corak kedai kopi ini.

Ini seolah memberitahu kita bahwa para pemilik kedai kopi itu tidak asal-asalan memilih cangkir yang digunakanya. Seolah ini soal ciri khas, karakter, identitas serta branding yang ingin dibangun pada kedai kopi itu. Jadi, pasti butuh kecermatan dan keseriusan dalam pemilihanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *